Cerpen Surealis Kambing dan Seonggok Kenang Karya Abdulah Mazid
Halo! kau imajinasi? dengan sedikit imajinasi, kita bisa menjelajahi semesta yang begitu luas tanpa batas loh..
berikut adalah satu dari sekian miliar semesta yang ada diantara kita, sebuah cerita pendek karyaku dengan sedikit bumbu imaji, selamat membaca..
KAMBING & SEONGGOK KENANG
Karya: Abdulah Mazid
Malam itu,
seekor kambing mengetuk jendela kamarku, mencongel selotnya, membukanya dan
menyelinap masuk. Entah bagaimana seekor kambing bisa melakukan hal semacam itu..
tapi yang jelas ketika aku kembali dari
pelarianku dalam mencoba mengurai kemalasan, kudapati ia tengah terduduk di
depan meja belajarku (namanya saja, tidak dengan fungsinya), sepertinya dia
tengah membaca sebuah buku. Hei tunggu, sepertinya aku pernah melihat buku itu,
meski dari sudut pandangku tak terlihat jelas sampulnya tapi dari potongan
gambar yang mampu kulihat saja aku yakin itu adalah buku yang sering kubaca
dulu, aku banyak belajar darinya, setidaknya dulu. Buku itu sudah lama tak
kusentuh lebih tepatnya, sudah lama kulupakan. Pertama kali aku menemukannya di
suatu siang ketika aku tengah bermain-main di loteng rumah dulu. Buku itu
kupungut dari sebuah kardus lusuh dari dasar tumpukan buku milik ibu. Aku
langsung jatuh hati pada buku itu ketika melihat sampulnya, setangkai mawar merah
yang terkulai dan sebuah pena yang seolah telah mengukir mawar itu sana, dan
kuyakin tangan lentik ibu yang bertanggung jawab atas gambar itu. Ketika kubuka
halaman pertamanya, di sana tertulis sebuah kalimat yang sepertinya bermuasal
dari dari seseorang yang tengah jatuh hati: “Cirebon
jadi sejuk, sejak senyummu terganung di atasnya” rasa penasaran tumbuh
subur di kepalaku setelah membaca potongan kalimat itu, di sana juga terlampir
secarik kertas yang terlipat rapih. Barangkali itu sebuah surat, pikirku. Aku
tak berani membukanya lebih jauh lagi karena aku ingat salah satu cerita ibu
tentang bagaimana ia bertengkar hebat dengan sahabatnya dulu karena sahabatnya
diam-diam membaca catatan harian ibu yang ditulisnya di lembar akhir buku
latihan matematika. Setelah itu,
kuputuskan untuk meminta izin terlebih dahulu kepada ibu agar aku bisa
menikmati isi buku yang kutemukan itu dengan tenang. Segera kurapihkan kembali
buku-buku itu, kukembalikan mereka ke asalnya dan menyisakan satu buku yang
kubawa ke kamarku diam-diam. Aku perlu menyusun banyak argumen dulu sebelum
menghadapi penolakan ibu nanti. Setengah jam berlalu aku masih di kamar, jantungku
masih berdebar, dan kepalaku masih kosong melompong. Ah sial! Kenapa saat
seperti ini otakku berhenti berfungsi. Sebelum sempat aku mengutuk diri lagi,
terdengar suara motor tua berhenti di halaman depan rumah. Dari sudut jendela
kamarku, bersama dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk dan merayap-rayap
ke dinding kamar, dia terlihat pulang, dia melangkah sempoyongan dengan mata setengah
melek, sesampainya ia di depan pintu, diketuknya pintu dengan kakinya: BRAAK!
Terdengar suara hantaman keras. Langkah
ibu terdengar terburu-buru dari arah dapur “Nok, tolong bantu ibu di dapur”
ujarnya setelah mengetuk pintu kamarku.Tanpa menunggu jawaban dariku, langkahya
terdengar menjauh dari balik pintu, sepertinya ibu bergegas menuju pintu depan.
Barangkali ibu tau aku tak akan mengabaikan titahnya dan akan melaksanakannya
dengan sepenuh hati karena aku ini memang gadis manis yang baik hati. Ibu benar
tentang manis dan baik hati, tapi kurasa ibu kurang tepat jika bicara soal melaksanakannya
dengan sepenuh hati, karena aku tau di dapur ibu tengah menggoreng ikan asin.
Aku benci
ikan asin, apalagi harus mendengar celotehan mereka. Meski begitu aku harus
tetap membantu ibu, setidaknya dengan itu mungkin bisa memperbesar harapanku
untuk mendapat izin membaca buku miliknya. Aku beranjak dari kamar menuju dapur,
dan benar saja, di dapur sepasang ikan asin tengah berceloteh ria di atas wajan
berisi minyak panas. Mereka langsung menyadari kedatanganku dan salah satunya langsung
menyapaku dengan ramah “Heey malas.. cepat ambil spatula itu dan balikan kami,
apa kau ingin kami gosong?” setelahnya mereka mengikik seperti sekelompok
oligarki yang tengah berbincang sore di ruang tamu“KIKIKIKIKIKI”. Aku bergegas
mengambil spatula yang berada di sebelah kompor dan membalikan kedua ikan
sialan itu “Diam dan cepatlah matang cerewet” balasku ketus. Tawa mereka semakin
merekah mendengar jawabanku “HAHAHAHAH… Apa gunanya jadi manusia jika hanya
bisa mengeluh dan menyusahkan ibunya.. KIKIKIKIKIKI”. Aku berpura-pura tak
mendengar kalimatnya, di situasi semacam ini pribahasa “diam adalah emas”
sepertinya sangat cocok untuk diterapkan. Menanggapi celotehan ikan-ikan sialan
itu hanya akan membuat darahku naik saja. “Heey miskin.. apa bagusnya hidup
jadi manusia? sombong! Bodoh! Malas! lebih baik kau bergabung saja dengan kami
di wajan ini, kau akan meresakan kehangatan yang membahagiakan di sini..
KIKIKIKIKIKIKI”. Kumatikan kompor, kuangkat ikan-ikan itu dari wajan, lalu
kutaruh di piring lantas bergegas menuju kamar sebelum kata sabar menghilang
dari kepalaku. Mendengarkan celotehan ikan-ikan itu membuatku ingin membuang mereka
ke selokan samping rumah, biar mereka mengobrol saja dengan sampah-sampah yang
ada di sana, mereka dengan seperangkat ocehannya lebih cocok berada di sana.
Akhirnya
aku bisa kembali ke tempat ternyamanku lagi, kamarku. Ruangan dengan luas tiga
kali tiga meter dengan dinding berhias mega yang kubawa dari kampung halamanku,
mega mendung. Awan-awan biru itu kugantung
dengan hati-hati disana. Butuh waktu lama untuk mengeluarkan semuanya dari
kepalaku. Kau tau, mega mendung tak akan jadi mega mendung jika hanya satu biru
yang mewarnainya. Dulu ketika keluargaku masih tinggal di Cirebon, aku sering
bermain dengan Kekek dan beliau sering bercerita tentang banyak hal, satu dari
ratusan ceritanya adalah tentang batik mega mendung ini. Katanya, umumnya ada
tujuh degradasi warna biru yang menghiasi batik mega mendung dan tujuh warna
biru itu melambangkan tujuh lapisan langit. Puluhan kali kakek menceritakannya
padaku, dan selama itu pula aku tak mengerti apa maksudnya. Baru saat otakku
siap menelan sejarah, aku mulai sedikit mengerti maksud penjelasan kakek dulu. Mega
Mendung adalah salah satu produk persetubuhan antara budaya Tiongkok yang
dibawa oleh Ratu Ong Tien dari China dengan budaya lokal Cirebon yang kemudian
coba kusimpan di kamarku. Sengaja aku mencoba menghias kamar ini dengan
tanganku sendiri agar aku benar-benar merasa memilikinya seutuhnya. Yaah..
meski aku tak pernah benar-benar bisa mengeluarkan semuanya dari kepalaku,
karena ada beberapa bagian tembok kamarku yang sudah mengelupas, mereka terlalu
lelah menanti renovasi, jadi aku tak bisa menuntaskan karyaku itu. Untuk menutupi
bagian tembok yang terkelupas itu, kugantung beberapa topeng panca wanda yang juga kutemukan di
loteng selang satu hari sebelum aku menemukan buku catatan milik ibu. Dari lima
topeng yang kutemukan aku hanya membawa tiga diantaranya yang masih dalam
keadaan utuh, topeng panji, rumyang, dan topeng kelana. Ketiga topeng tersebut sepertinya `terbuat dari kayu jarang. Aku ingat, dulu Kakek juga
sering mengajakku ke kebun untuk mengambil kayu jarang yang biasa digunakan
Kakek sebagai bahan dasar untuk membuat kerajinan. Di perjalanan menuju kebun, beliau
tak henti-hentinya bercerita tentang betapa makna dari Topeng Panca Wanda
Cirebon sangat erat dengan fase kehidupan manusia di dunia. Dari mulai Topeng
Panji yang menggambarkan
kesucian bayi yang baru lahir. Motif topengnya polos dan berwarna putih bersih,
hanya terdiri dari mata, hidung, dan mulut tanpa guratan apa pun seolah
menggambarkan betapa manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan bersih dan suci.
Hingga Topeng Kelana sebagai penggambaran fase terakhir kehidupan manusia.
Topeng Kelana didominasi warna merah dengan kumis tebal serta tatapan mata yang
tajam. Kata Kakek, sebagian orang memaknai topeng ini sebagai simbol angkara
murka dan kerakusan manusia. Namun, ada pula yang menginterpretasikan arti yang
berbeda sebagai bentuk aktualisasi diri yang sempurna. Sepertinya Ibu sengaja
mencoba membawa secuil-kecil Cirebon ke rumah ini. Tapi walau bagaimanapun
Jakarta tetaplah Jakarta, lain daripada Cirebonku. Kususun sedemikian
rupa ketiga topeng yang kubawa dari loteng itu untuk menutupi bagian tembok
kamarku yang terkelupas. Sebetulnya aku juga menjupai dua topeng yang lainnya, samba dan tumenggung, hanya saja kondisinya sudah tidak layak untuk dijadikan
hiasan dinding, sebagian besar catnya sudah terkelupas.
Kau Nasi Lengko?
Kecap kehilangan pekatnya saat
kunikmati ia di sampingmu
Potongan timun menjelma potongan keju
Bawang goreng, toge, tahu, tempe
Hilang rasa
Hilang rupa
Di jalan perjuangan, di tempat biasa
Dengan nasi lengko yang biasa, dan
segelas teh hangat biasa
Satu-satunya yang tak biasa hanya
yang tengah duduk di sampingku,
Menu kesukaanku
Manis tuturnya, renyah tawanya, baik
hatinya
Aah.. Benar benar cita rasa yang
sempurna
Kalau kau nasi lengko
akanku pesan untuk setiap pagi,
Setiap awal hari.
Cirebon, November 2021
Setelah membacanya, lahir banyak
pertanyaan di kepalaku: orang lapar macam apa yang menuang tulisan ini? Sebelum
aku sempat menikmati isi pikiranku terkait tulisan itu lebih lama lagi,
terdengar suara gaduh di ruang keluarga rumahku. Aku tak terlalu menghiraukan
hal itu, karena memang hal semacam itu sering terjadi di rumah ini apalagi
ketika orang itu pulang. Dia tak bisa pulang dengan tenang, selalu ada masalah
yang dibawanya dari dunia luar sana. Aku tak habis pikir dengan ibu, kenapa ia
bisa menikah dengan orang semacam itu. Dulu aku sering menanyakan alasan ibu
mau dinikahi oleh orang itu, tapi ibu tak pernah banyak berkata, ia hanya
menjawabnya dengan selekuk senyum dan kalimat “karena ibu mencintainya.”
Setelah
suara kegaduhan di ruang tamu berhenti, akhirnya otak kecilku kembali menemukan
fungsinya. Ia berhasil menyusun beberapa skenario percakapan yang mungkin
terjadi untuk menghadapi penolakan ibu dan setelah memupuk beberapa keberanian dalam diri, kuputuskan untuk
beranjak dari kamar dan segera menemui ibu. Baru setengah langkah aku
menginjakan kaki di ruang tamu, atmosfer ruangan itu terasa sangat berbanding
terbalik dengan kamarku. Jantungku langsung merespon perubahan yang amat
drastis itu. Ia melompat-lompat seolah ingin segera keluar dari dadaku dan
menerjang orang itu. Ya! Orang itu.. orang itu pasti pelakunya! Jantungku
semakin menjadi dengan detakannya, tapi bukan lagi darah yang mengalir di tubuhku,
marah, sedih, kecewa, putus asa, semuanya seolah membanjiri pembuluh darahku
saat itu. Harapanku pupus, dan benar-benar mampus sore itu. Senja tak lagi
jingga yang merona, ia menjelma hitam yang kosong, kelam. Senin, 11 November
2030 diperingati sebagai hari pahlawan Nasional oleh bangsa Indonesia, dan menjadi
hari paling kelam yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku selalu berharap entah
bagaimana caranya dan siapapun oranganya, tolong hapus satu hari itu saja dalam
kenyataan yang pernah terjadi di muka bumi. Kejadian itu memang sudah berlalu,
sudah delapan tahun lamanya, tapi masih terpampang jelas di kepalaku.
Di rumah
yang sama, di malam yang sama, di tempat ternyamanku, kambing itu masih bergeming
dengan buku yang tengah dibacanya. Sepertinya ia tak menyadari kedatanganku.
Apa itu yang orang-orang sebut sebagai menghayati? Atau barangkali dia tau, tak
ada gunanya juga menghiraukan keberadaan payah sepertiku. Tapi aneh, apa
gunanya untuk seekor kambing membaca buku? Agar lulus ujian seleksi masuk
perguruan tinggi favorit? Lagi pula, sejak kapan kambing jadi makhluk
nokturnal? Malam sudah larut sejak tadi, sudah hampir berganti hari. Aku mencoba
menyuarakan keberadaanku dengan satu kalimat yang mungkin kurang tepat untuk
situasi semacam ini, tapi hey? Kalimat macam apa yang pantas untuk situasi
semacam ini? Ini pertama kalinya bagiku dikunjungi kambing malam-malam
begini. Setelah sedikit mengorek kosa kata
yang ada dikepala, kuputuskan untuk memecah kebingungan itu dengan satu kalimat
tanya "sedang apa malam-malam begini dikamar orang?" Entah kenapa setelah
bibirku mengucapkannya, sepertinya pertanyaanku terdengar aneh. Sebetulnya aku hendak
bertanya "siapa kau?" Tapi aku kuurungkan niatku menanyakannya,
karena apa pentingnya mengetahui siapa dia? Bukankah yang lebih penting adalah
apa yang ia lakukan? Lagi pula, memangnya seekor kambing paham bahas manusia?
Sepertinya tidak, hal itu dibuktikan dengan kebergemingannya atas pertanyaanku.
Tapi aneh, lalu bagaimana dia mampu membaca buku itu? Aku menunggu beberapa saat, barangkali
butuh waktu lebih bagi otak seekor kambing untuk memproses sebuah ujaran bahasa
manusia. Setelah beberapa saat tak ada yang terjadi, matanya masih fokus
menatap buku yang ada di atas meja itu. Lantas kuputuskan untuk mengambil
langkah paling rasional yang bisa kulakukan saat itu, kudekati ia lalu kutepuk
pundaknya. Dia sepertinya tak terkejut dengan apa yang kulakukan. Tak ada
gerak-gerik panik dari responnya. Kemudian dia mengalihkan wajahnya
menghadapku. saat itu aku yakin dia benar-benar seekor kambing, dan anehnya
kuyakin ia tengah tersenyum saat itu. Entah apapun alasannya, tapi satu hal
yang membuatku merasa lebih baik setelah melihat wajahnya, ia pribadi yang
baik, sungguh, terlihat dari caranya membentuk senyumnya itu. Aku bukan ahli
penerjemah senyuman, tapi dari banyak senyuman yang pernah kulihat, senyumannya
saat itu adalah salah satu yang tak terlihat sedikitpun kepalsuan menyertainya.
Dia tulus melakukannya.
Setelah dia
memberikan sepotong senyum itu padaku, dan tentang apa yang terjadi setelahnya
sulit bagiku untuk menjelaskannya dengan benar, karena akupun tak benar-benar
paham apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba kambing itu menguap dari bentuknya
dan membaur dengan atmosfer kamarku. Anehnya, ia tak meninggalkan residu
sedikitpun, tak ada bau, tak ada warna yang tertinggal. Yang tersisa dari
situasi membingungkan itu hanyalah kehampaan yang sunyi diiringi nyanyian
jantungku yang perlahan kembali menemukan ritmenya yang tenang, dan buku Ibu
yang masih terbuka tepat di halaman yang dulu belum sempat kubaca.
Tuan kehilangan dirinya lagi
Tuan memaki, puan hanya diam
Tuan memukul, puan tetap diam
Tuan menendang, puan tetap diam.
Puan menangis, tuan hancur
Setelah membaca catatan kecil itu, kesal kembali menyertai seisi kepalaku. Tapi semua sudah berlalu, dan kejadiannya akan tetap sama. Merasa marah tak akan merubah masa lalu. Dan ibu pun sering berkata padaku “marah itu cuman buang-buang waktu dan tenaga, tak ada gunanya.” ibu benar tentang itu. Belum rampung kepalaku mencerna kehilangan si kambing, seseorang mengetuk jendela kamarku, aku mencoba mencari tau siapa yang bertanggung jawab atas ketukan di jendela malam-malam begini, ternyata itu si kambing yang tadi. Dari wajahnya aku yakin sekali dia adalah kambing yang sama yang beberapa saat lalu masih terduduk di depan meja belajarku. Sebentar, hey? Bukankah aku belum sempat menutup jendelaku? Dan bukankah slotnya sudah dicongkel? Sial! Situasi membingungkan macam apa lagi ini? Sebelum aku sempat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku, satu lagi keajaiban terjadi, buku milik Ibu yang semula berada di atas meja belajarku, kini berpindah tempat dipelukan sang kambing, entah bagaimana itu bisa terjadi, aneh sekali. Kuputuskan untuk segera tidur sebelum aku benar-benar gila malam itu. Walaupun ada banyak tanda tanya memenuhi isi kepalaku, malam itu aku terlelap dengan lekas, itu keahlian ku.


Komentar
Posting Komentar