Cerpen "Tuhan Tidak Makan Ikan" Karya: Gunawan Tri Atmodjo

 

Tuhan Tidak Makan Ikan

Karya: Gunawan Tri Atmodjo

Aku dibesarkan dalam keluarga nelayan. Daratan memberi kami hunian tapi lautan memberi kami makan. Kami bekerja di lautan dan beristirahat di daratan. Kegarangan ombak adalah tantangan keseharian yang biasa kami taklukkan sedangkan kenyataan di daratan adalah keniscayaan yang tak mungkin kami lawan. Daratan yang kami tinggali tak dilimpahi kesuburan sehingga aneka tanaman yang sekiranya mampu menghidupi kami tak dapat ditumbuhkan. Maka pada laut kembali kami tambatkan hidup. Nelayan adalah suratan penghidupan di garis tangan. Riwayat asin yang kami amini di antara gelombang dan batu karang.

Aku hanya sekolah sampai lulus SD. Ini adalah jenjang pendidikan tertinggi yang biasa ditempuh warga kampung nelayan ini. Sebenarnya aku ingin melanjutkan sekolah lagi tapi kondisi ekonomi dan tradisi di kampung ini memupusnya. Kedua orang tuaku tak mendukung niatku ini. Akan halnya penduduk kampung lainnya, dalam diri mereka sudah tertanam dogma: untuk apa berlama-lama sekolah toh pada akhirnya jadi nelayan juga. Anggapan ini kurasa ada benarnya juga. Pada akhrinya memang aku akan menjadi nelayan meneruskan tradisi keluarga dan sejarah panjang nenek moyang.

Sejak umur sebelas tahun aku sudah diajak ayah melaut. Aku diperkenalkan dan diakrabkan dengan keganasan lautan. Berbagai kemampuan wajib nelayan seperti mendayung, merajur jalan yang koyak, menambal kapal, hingga memperbaiki kerusakan mesin diajarkan ayah secara bertahap. Aku menguasainya secara perlahan-lahan. Sementara untuk kemampuan dasar semacam berenang dan menyelam sudah kukuasai sejak kecil bersama kawan-kawanku. Kemampuan dasar itu seakan sudah ditulis pada genetisku. Biasanya, ayah akan memberiku contoh dan memintaku mencermatinya untuk kemudian langsung mempraktikannya. Maka di usiaku yang ke-tiga belas, yang ditandai dengan lulus SD, aku sudah bisa menyebut diri sebagai nelayan. Tubuhku yang ditempa lautan kurasa juga tumbuh lebih cepat. Aku merasa cukup kuat dan kulitku yang dilegamkan matahari dan angin lautan memupuk rasa percaya diriku menjadi seorang nelayan muda yang handal.

Kadang ketika ayah sakit atau berhalangn, aku yang menggantikannya melaut. Bersama paman aku akan dituntun angin darat mengarungi ombak dengan perahu kami yang tanpa geladak. Suara mesin akan meraung membelah malam dan debur ombak. Begitu mesin dimatikan kami akan mulai menebarkan jala, memasang umpan pada kail-kail pancing lalu melemparkan talinya di bagian lain jala, kemudian menungguinya sejenak sembari mengobrol sebelum menariknya kembali begitu ada isyarat ikan-ikan terjerat. Di saat-saat seperti itu aku selalu menyempatkan diri berdoa agar tangkapan ikan kami memuaskan. Di tengah keluasan laut dan malam yang seakan berkelindan aku merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta.

Tuna dan cakalang yang terjerat akan membuat semangat kami berlipat untuk melempar jala dan pancing lagi. Kedua jenis ikan itu adalah primadona yang harganya cukup tinggi di pelelangan milik kepala kampung. Tapi adakalanya juga malam-malam berjalan melangut, hanya beberapa tongkol yang tersangkut. Angin laut akan menuntun perahu kami pulang dengan rasa hampa karena hasil penjualan ikan tangkapan tak akan menutup biaya solar sebagai bahan bakar kapal yang mahal dan sering langka.

Aku telah terbiasa menghadapi keadaan itu dan dapat membacanya dari raut ayah sepulang melaut. Ada empat nyawa selain diri ayah sendiri yang harus dihidupinya. Dua adikku belum mampu menahan lapar sehingga makan menjadi keharusan bagi mereka. Beda halnya aku dan ibuku yang mampu berpuasa hingga ada makanan pengganjal perut. Kadang ketika raut ayah murung seperti itu aku jadi ikut merasa sedih. Saban kali begitu aku akan menggencarkan doaku kepada Sang Pencipta agar laut lebih bermurah hati kepada kami.

Meski hanya tamatan SD tapi aku sangat suka membaca, Aku akan membaca setiap deretan huruf yang kutemukan, mulai dari koran bekas hingga bungkus makanan. Keranjingan baca yang kualami ini adalah hal langka di perkampungan nelayan ini. Jangankan gemar membaca, penduduk yang buta huruf saja jumlahnya masih banyak. Aku sering membayangkan kesepian macam apa yang dihadapi manusia buta huruf seperti mereka. Tentulah dunia mereka lebih sunyi daripada duniaku. Ingin rasanya kelak aku mengajarkan membaca pada mereka meskipun aku juga tahu bahwa bagi mereka membaca adalah perkara yang tidak penting. Toh tanpa kemampuan membaca pun mereka masih bisa hidup normal seperti saat ini. Untunglah seluruh anggota keluargaku melek huruf meski tak semilitan aku dalam berurusan dengan aksara.

Hobiku membaca inilah yang menuntun seringnya kakiku mengunjungi tempat pelalangan ikan. Dahulu ada beberapa tengkulak ikan di pelelangan ini sehingga tiap nelayan bisa memilih pembeli ikan tangkapannya, terutama yang menawar dengan harga tertinggi. Keberadaan para tengkulak ikan itu hanya bertahan hingga aku kelas empat SD. Aku ingat betul kejadian itu. Sempat terjadi keributan sengit di pelelangan ikan sepulang aku sekolah. Beberapa orang tampak menghunus senjata tajam. Ayah yang berada di sana segera mengantarku pulang dan mengurungku di rumah. Aku tak tahu apa yang terjadi berikutnya karena ayah juga tak mau bercerita banyak. Keesokan paginya ketika melewatinya dalam perjalanan ke sekolah, suasana pelelangan ikan sudah kembali tenang. Tetapi ada satu perbedaan mencolok yang terlihat. Banyak kios pelelangan yang dirobohkan dan hanya tersisa satu kios milik kepala kampung. Di tempat itulah sering berkumpul para pendatang yang ingin membeli ikan. Biasanya pula mereka membawa koran yang hanya dibaca sebagai pengusir jenuh di perjalanan. Sesampainya di sini, koran-koran itu dibuang begitu saja dan dengan senang hati aku memungut dan membaacanya. Jika ada artikel menarik, aku akan menyimpannnya. Di kamarku bersemayam koran-koran bekas pilihan itu. Aku berencana mengklipingnya jika ada kelonggaran uang. Kebiasaan memulung koran-koran itu menerbitkan kebahagiaan dalam diriku. Aku sering berkhayal, andai saja ada kesempatan memilih cita-cita selain nelayan, aku ingin menjadi agen koran dan buku agar bisa membaca sepuas-puasnya.

Aku tak lagi bercita-cita menjadi pegawai perpustakaan karena memendam pengalaman buruk terhadapnya. Dua tahun lalu, tepatnya sebelum lulus SD, aku sempat meminjam beberapa buku dari perpustakaan dan hingga kini belum kukembalikan. Aku tahu buku-buku itu tak akan pernah ditagih oleh pegawai perpustakaan karena aku memang tidak meminjamnya secara resmi.

Perpustakaan di SD-ku tidak besar dan koleksi bukunya tak banyak. Sebagian besar dari buku-buku itu sudah kubaca. Saat itu menjelang ujian nasional dan datang buku-buku baru hibahan dari kota. Aku ingin membaca buku-buku baru itu tapi sesuai peraturan perpustakaan, jatah pinjam buku hanya satu per harinya. Dan pula, murid kelas enam sepertiku, yang sudah hampir lulus, tidak diperkenankan lagi meminjam buku karena alasan konsentrasi belajar dan kelancaran pengembalian buku. Kebijakan perpustakaan itu terasa seperti sebuah kezaliman bagiku. Nafsu membacaku yang besar menggerakkanku untuk meminjam buku-buku itu tanpa izin. Ketika perpustakaan sepi, kumasukkan beberapa buku secara acak dan tergesa ke tas lalu bergegas menuju kelas. Aku pulang bersama buku-buku baru itu dengan diliputi rasa takut. Aku berjanji kepada diriku sendiri akan mengembalikan buku-buku itu setelah rampung membacanya.

Sesampainya di rumah, masih dengan tangan gemetar, kumasukkan buku-buku itu ke tas plastik lalu menyembunyikannya di kolong ranjang. Setelah mengamankan buku-buku itu aku baru tersadar bahwa tindakanku ini tak ubahnya pencurian. Aku menyesalinya dan merasa sangat berdosa tapi aku juga tak punya cukup nyali untuk mengembalikannya meski secara diam-diam. Aku takut ketahuan, taku disangka maling yang tentu saja akan berpengaruh pada kelulusanku dan mencoreng nama baik keluargaku. Maka kubiarkan buku-buku itu teronggok begitu saja di kolong ranjang untuk sementara waktu. Aku butuh waktu untuk meredakan gemuruh dalam diriku.

Kini setelah dua tahun lulusan SD, aku merasa cukup punya nyali untuk menghadapi buku-buku itu lagi. Aku telah berjanji akan mengembalikan buku-buku itu lagi. Aku telah berjanji akan mengembalikan buku-buku itu ke perpustakaan sekolah setelah membacanya dan akan kutepati. Aku pun mengeluarkan buku-buku itu dari kolong ranjang seperti seorang perompak menarik peti harta rampasannya dari dalam gua persembunyian. Plastik pembungkusnya sudah berdebu. Aku membukanya dengan berdebar-debar. Dulu tergesa-gesa tanpa melihat judul-judulnya. Kini dengan rasa ingin tahu yang memuncak aku menyingkap jati diri buku-buku itu. Ada delapan buku dalam plastik itu yang terdiri dari tiga buku keagaamaan, dua buku cerita rakyat, dua buku pertanian berjudul sama, dan satu buku keterampilan.

Buku cerita rakyat adalah yang kali pertama kubaca. Saat itu adalah masa-masa bergairahku membaca tapi menjadi masa-masa lesu di perkampunagn nelayan. Sudah berhari-hari hasil tangkapan ikan sedikit dan tidak menutup biaya solar. Kondisi pahit ini membuat ayah dan para nelayan lainnya enggan melaut. Berkahnya, aku jadi punya banyak waktu membaca di rumah. Buku cerita rakyat dari Riau dan Jawa Tengah selesai kubaca dengan cepat sedangkan buku pertanian dan keterampilan kukesampingkan. Kupikir kedua jenis buku ini kurang berguna karena tanah ini tak akan cocok untuk pertanian dan aku belum butuh keterampilan selain menangkap ikan. Tetapi tetap akan kubaca buku-buku itu di kemudian hari. Aku merasa cukup berminat pada buku-buku agama, terutama tentang kisah para rasul dan nabi. Aku menghayati segala keajaiban yang terjadi dalam cerita beserta segenap kepasrhaan tokoh-tokohnya kepada Sang Pencipta. Ketika tidak melaut, kudongengkan cerita rakyat serta kisah para nabi dan rasul ini kepada adik-adikku. Dongeng dariku ini menjadi hiburan utama bagi mereka ketika televisi 14 inci kami rusak dan ayah tak punya uang untuk mereparasinya. Aku juga senang dapat mendongengi mereka. Menceritakan ulang cerita-cerita itu membuat daya ingat dan pemahamanku terhadapnya semakin kuat.

Aku masih asyik membaca buku-buku agama sementara hasil dari laut semakin susut. Pelelangan ikan sepi. Kepala kampung sibuk menjelaskan berbagai alasan kepada konsumennya. Di pantai, perahu-perahu terdampar seakan tanap tuan. Kehidupan berdenyiy lemah di perkampungan ini selama berhari-hari hingga kepala kampung menggemparkannya dengan ide persembahan kepada penguasa laut demi hasil tangkapan yang  melimpah kembali. Berdasar cerita ayah, persembahan ini adalah hal baru di kampung ini. Leluhur kami belum pernah melakukannya. Tetapi karena dilanda keputusasaan, para nelayan pun termasuk ayah menyetujuinya. Para nelayan hanya mengandalkan spekulasi: siapa tahu ritual semacam ini memang perlu dan bertuah. Kepala kampung, yang entah mendapat ilham dari mana, menjelaskan tentang tata cara ritual persembahan. Setiap keluarga diharapkan untuk mengorbankan hail tangkapan sekali melaut sebagai persembahan. Para nelayan menjalankannya.

Malam itu aku dan ayah kembali melaut dengan satu niat, persembahan. Di luar dugaan ternyata hasil tangkapan ikan kami melimpah. Kapal kami disarati ikan. Bahkan kami menangkap beberapa cumi-cumi berukuran lumayan besar yang harganya tinggi. Kegembiraanku membuncah tapi segera pupus manakala teringat bahwa ikan ikan yang melimpah ini harus dipersembahkan pada penguasa laut. Hatiku terasa berat saat menuju tempat pelelangan. Kurasa ayah juga demikian. Aku tak membaca keceriaan di raut wajahnya.

Ternyata tak hanya kami, tangkapan ikan nelayan lain juga melimpah saat itu. Setelah semua hasil laut persembahan terkumpul, kepala kampung kembali menjelaskan lanjutan tata cara persembahan. Katanya, hanya dia dan seorang dukun dari luar kampung yang akan mengantarkan persembahan itu ke singgasana penguasa laut di bentang wingit pantai, yang letaknya cukup jauh dari sini. Kepala kampung berusaha membesarkan hati para nelayan dengan mengagung-agungkan pengorbanan mereka ini. Katanya lagi, baru niat mempersembahkan saja hasil laut sudah melimpah begini, apalagi nanti setelah ritual persembahan usai.

Tak berselang lama, sebuah truk mendekat. Seorang lelaki paruh baya turun. Aku mengenali lelaki itu sebagai sopir truk yang dahulu mengantarkan rak buku ke sekolahku. Aku masih ingat betul codet di pipi kirinya. Dulu aku juga sempat bertanya kepadanya mengenai bahan kayu pembuat rak buku itu ketika dipasang di perpusatkaan. Mungkin sekali dia sudah lupa kepadaku tapi aku masih mengingatnya. Rupanya lelaki itulah yang diperkenalkan kepala kampung kepada para nelayan sebagai dukun. Lelaki itu kembali menegaskan apa yang telah dijelaskan oleh kepala kampung. Dengan suara yang terdengar berwibawa dan menggetarkan, lelaki itu meminta kepada para nelayan untuk memindahkan sendiri hasil laut mereka ke bak truk yang terbuka. Kanya, hal itu sebagai tanda pengorbanan langsung dan dapat lebih melegakan mereka. Para nelayan mematuhinya dengan khidmat, termasuk ayah. Setelah muatan penuh ikan, truk membawa kedua lelaki itu pergi menunaikan misi suci.

Aku membaca kelegaan di wajah ayah setelah melakukan persembahan itu. Aku dapat merasakan harapan tumbuh dalam dirinya. Ayah percaya pada persembahan itu juga para nelayan lainnya. Tak tega rasanya aku merusak kelegaan itu dengan mengungkapkan jati diri dukun itu kepadanya.

Barangkali hanya aku yang masih tak merelakan hasil laut yang melimpah malam ini untuk persembahan. Andai ikan-ikan itu dijual tentu uangnya bisa untuk makan kami selama beberapa hari dan membayar ongkos reparasi televisi. Ketidakrelaanku ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan mengganggu yang kian menggema dalam diriku: mengapa penguasa laut masih butuh ikan dari para nelayan padahal sangat mudah baginya untuk menangkap ikan-ikan, yang juga menjadi miliknya sendiri itu?

Kudengar ayah bersenandung dalam perjalanan pulang. Rupanya suasan hatinya benar-benar sedang baik. Jalanan mulai sepi tapi benakku justru gaduh sekali. Tiba-tiba aku teringat buku-buku agama yang sedang kubaca dan meluncurlah sebuah pertanyaan tak terduga kepada ayah.

“Siapa sih penguasa laut ini, Yah?”

Ayah menghentikan langkah. Aku melihat kerutan di dahinya. Ia tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pendek, “Tuhan.”

“Apakah Tuhan itu makan ikan, Yah?”

Ayah tertawa terbahak-bahak lantas meninju lennganku. Aku tak pernah melihat ayah segirang ini semenjak tangkapan ikan dari laut susur. Aku mendengar dengan jelas jawabannya dan meyakininya meski aku tahu bahwa ayah juga bukan umat yang rajin beribadah.

“Anak bodoh, tentu saja Tuhan tidak makan ikan!”



Komentar

Sastra Z

Cerpen "REMBULAN DI MATA IBU" Karya: Asma Nadia

Puisi ANJING Karya Ira Rahayu

Cerpen (Patung) Karya: Putu Wijaya

Cerpen Surealis Kambing dan Seonggok Kenang Karya Abdulah Mazid

Cerpen "Laila" Karya: Putu Wijaya