Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2022

Cerpen "REMBULAN DI MATA IBU" Karya: Asma Nadia

Gambar
  REMBULAN DI MATA IBU Karya: Asma Nadia Kupandangi telegram yang barusan kubaca.  Batinku galau  Ibu sakit Diah, pulanglah !  Begitu satu-satunya kalimat yang tertera disana. Mbak Sri menyuruhku pulang? Tapi … benarkah Ibu sakit?  Bayangan Ibu, dengan penampilannya yang tegar berkelebat. Rasanya baru kemarin aku masih melihatnya berjalan memberi makan ternak-ternak kami sendirian. Melalui padang rumput yang luas. Berputar-putar di sana berjam-jam. Mengawasi rumah kecil kami yang hanya berupa noktah dari balik bukit.  Tidak. Ibu bahkan tak pernah kelihatan lelah di malam hari. Saat semua aktivitas seharian yang menguras kekuatan fisiknya berlalu. Ibu selalu kelihatan sangat kuat.  Tak hanya kata, dari mulutnya pun masih kerap terdengar ungkapan ungkapan pedas, khususnya yang ditujukan kepadaku.  “Jadi perempuan jangan terlalu sering melamun Diah! BEkerja, itu akan membuat tubuhmu kuat!”  Komentarnya suatu hari padaku. Pada...

Cerpen "Tuhan Tidak Makan Ikan" Karya: Gunawan Tri Atmodjo

Gambar
  Tuhan Tidak Makan Ikan Karya: Gunawan Tri Atmodjo Aku dibesarkan dalam keluarga nelayan. Daratan memberi kami hunian tapi lautan memberi kami makan. Kami bekerja di lautan dan beristirahat di daratan. Kegarangan ombak adalah tantangan keseharian yang biasa kami taklukkan sedangkan kenyataan di daratan adalah keniscayaan yang tak mungkin kami lawan. Daratan yang kami tinggali tak dilimpahi kesuburan sehingga aneka tanaman yang sekiranya mampu menghidupi kami tak dapat ditumbuhkan. Maka pada laut kembali kami tambatkan hidup. Nelayan adalah suratan penghidupan di garis tangan. Riwayat asin yang kami amini di antara gelombang dan batu karang. Aku hanya sekolah sampai lulus SD. Ini adalah jenjang pendidikan tertinggi yang biasa ditempuh warga kampung nelayan ini. Sebenarnya aku ingin melanjutkan sekolah lagi tapi kondisi ekonomi dan tradisi di kampung ini memupusnya. Kedua orang tuaku tak mendukung niatku ini. Akan halnya penduduk kampung ...

Cerpen (Patung) Karya: Putu Wijaya

Gambar
  P A T U N G Karya : Seno Gumira Ajidarma                            Duaratus tahun kemudian, seorang nenek berkata kepada cucunya, sambil menunjuk diriku. “Lihatlah orang bodoh itu,” katanya, “ia berdiri terus disitu, menunggu kekasihnya sampai menjadi patung.” Kulihat  gadis di sampingnya, menggandeng neneknya dengan hati-hati. Agaknya nenek itu sengaja membawa gadis manis cucunya itu kesini untuk memberinya pelajaran. “Jangan pernah engkau sudi menunggu kekasih yang meninggalkanmu tanpa kepastian untuk kembali. Nanti engkau juga akan menjadi patung seperti dia.” Gadis itu memandangku dengan takjub. Berbeda dengan pandangan neneknya yang penuh pelecehan. “Tapi nek, bukankah itu berarti dia sangat setia?” “Itu bukan setia namanya. Itu bodoh.” “Katanya kalau kita mencinai seseorang, kita harus setia kepadanya.” Nenek itu menga...