Postingan

Sastra Z

Puisi ANJING Karya Ira Rahayu

Gambar
   Biografi Singkat Ira Rahayu Ira Rahayu, S.Pd.,M.Pd. adalah wanita ke lahiran Kuningan, 5 Februari 1986. Menempuh pendidikan SI Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia lulus tahun 2008, lalu melanjutkan S2 Pendidikan Bahasa Indonesia lulus tahun 2013 di Universitas Swadaya Gunung Jati. Sejak tahun 2010 Menjadi dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, mengajar Mata Kuliah Apresiasi dan Kajian Puisi, Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi, Teori Sastra Anak, dan MKDU Bahasa Indonesia. Mulai tahun 2018 menjadi instruktur PPG Daljab Prodi Bahasa Indonesia UGJ. Tahun 2021 mulai bertugas sebagai Asesor Sekolah Penggerak Kemendikbudristek.  Tahun 2010 beliau menerbitkan buku kumpulan puisi “ Kepada Nohesca”, tahun 2018 buku antologi puisi kedua berjudul “Kepada Nohesca 2”, tahun 2021 menerbitkan buku teks “ Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi Menuju Proses Kreatif Menulis”. Kini sedang berproses kreatif menulis buku kumpulan cerita anak. Sementara, dalam kegiatan pengabdianny...

Cerpen Surealis Kambing dan Seonggok Kenang Karya Abdulah Mazid

Gambar
Halo! kau imajinasi? dengan sedikit imajinasi, kita bisa menjelajahi semesta yang begitu luas tanpa batas loh.. berikut adalah satu dari sekian miliar semesta yang ada diantara kita, sebuah cerita pendek karyaku dengan sedikit bumbu imaji, selamat membaca.. KAMBING & SEONGGOK KENANG Karya: Abdulah Mazid Malam itu, seekor kambing mengetuk jendela kamarku, mencongel selotnya, membukanya dan menyelinap masuk. Entah bagaimana seekor kambing bisa melakukan hal semacam itu.. tapi   yang jelas ketika aku kembali dari pelarianku dalam mencoba mengurai kemalasan, kudapati ia tengah terduduk di depan meja belajarku (namanya saja, tidak dengan fungsinya), sepertinya dia tengah membaca sebuah buku. Hei tunggu, sepertinya aku pernah melihat buku itu, meski dari sudut pandangku tak terlihat jelas sampulnya tapi dari potongan gambar yang mampu kulihat saja aku yakin itu adalah buku yang sering kubaca dulu, aku banyak belajar darinya, setidaknya dulu. Buku itu sudah lama tak kusentuh lebih t...

Cerpen "REMBULAN DI MATA IBU" Karya: Asma Nadia

Gambar
  REMBULAN DI MATA IBU Karya: Asma Nadia Kupandangi telegram yang barusan kubaca.  Batinku galau  Ibu sakit Diah, pulanglah !  Begitu satu-satunya kalimat yang tertera disana. Mbak Sri menyuruhku pulang? Tapi … benarkah Ibu sakit?  Bayangan Ibu, dengan penampilannya yang tegar berkelebat. Rasanya baru kemarin aku masih melihatnya berjalan memberi makan ternak-ternak kami sendirian. Melalui padang rumput yang luas. Berputar-putar di sana berjam-jam. Mengawasi rumah kecil kami yang hanya berupa noktah dari balik bukit.  Tidak. Ibu bahkan tak pernah kelihatan lelah di malam hari. Saat semua aktivitas seharian yang menguras kekuatan fisiknya berlalu. Ibu selalu kelihatan sangat kuat.  Tak hanya kata, dari mulutnya pun masih kerap terdengar ungkapan ungkapan pedas, khususnya yang ditujukan kepadaku.  “Jadi perempuan jangan terlalu sering melamun Diah! BEkerja, itu akan membuat tubuhmu kuat!”  Komentarnya suatu hari padaku. Pada...

Cerpen "Tuhan Tidak Makan Ikan" Karya: Gunawan Tri Atmodjo

Gambar
  Tuhan Tidak Makan Ikan Karya: Gunawan Tri Atmodjo Aku dibesarkan dalam keluarga nelayan. Daratan memberi kami hunian tapi lautan memberi kami makan. Kami bekerja di lautan dan beristirahat di daratan. Kegarangan ombak adalah tantangan keseharian yang biasa kami taklukkan sedangkan kenyataan di daratan adalah keniscayaan yang tak mungkin kami lawan. Daratan yang kami tinggali tak dilimpahi kesuburan sehingga aneka tanaman yang sekiranya mampu menghidupi kami tak dapat ditumbuhkan. Maka pada laut kembali kami tambatkan hidup. Nelayan adalah suratan penghidupan di garis tangan. Riwayat asin yang kami amini di antara gelombang dan batu karang. Aku hanya sekolah sampai lulus SD. Ini adalah jenjang pendidikan tertinggi yang biasa ditempuh warga kampung nelayan ini. Sebenarnya aku ingin melanjutkan sekolah lagi tapi kondisi ekonomi dan tradisi di kampung ini memupusnya. Kedua orang tuaku tak mendukung niatku ini. Akan halnya penduduk kampung ...

Cerpen (Patung) Karya: Putu Wijaya

Gambar
  P A T U N G Karya : Seno Gumira Ajidarma                            Duaratus tahun kemudian, seorang nenek berkata kepada cucunya, sambil menunjuk diriku. “Lihatlah orang bodoh itu,” katanya, “ia berdiri terus disitu, menunggu kekasihnya sampai menjadi patung.” Kulihat  gadis di sampingnya, menggandeng neneknya dengan hati-hati. Agaknya nenek itu sengaja membawa gadis manis cucunya itu kesini untuk memberinya pelajaran. “Jangan pernah engkau sudi menunggu kekasih yang meninggalkanmu tanpa kepastian untuk kembali. Nanti engkau juga akan menjadi patung seperti dia.” Gadis itu memandangku dengan takjub. Berbeda dengan pandangan neneknya yang penuh pelecehan. “Tapi nek, bukankah itu berarti dia sangat setia?” “Itu bukan setia namanya. Itu bodoh.” “Katanya kalau kita mencinai seseorang, kita harus setia kepadanya.” Nenek itu menga...