Cerpen "Laila" Karya: Putu Wijaya
Laila
Karya :
Putu Wijaya
Menangis tidak selamanya tanda
kelemahan. Tapi istri saya tidak bisa menafsirkan lain, ketika melihat kucur
air mata Laila.
”Ada apa lagi Laila,” tanya istri saya. ”Kok nangis
seperti sinetron, kapan habisnya?”
Tangis Laila bukannya berhenti, malah tambah
menjadi-jadi. Saya cepat memberi kode rahasia supaya interogasi itu jangan
dilanjutkan. Besar kemungkinan, itu taktik minta gaji naik.
”Laila itu bukan jenis pembantu murahan yang mata
duitan. Dia orang Jawa yang tahu diri, memangnya kamu!” bentak istri saya,
sambil menarik Laila bicara empat mata.
”Dia punya konflik,” kata istri saya kemudian.
”Suaminya kurang ajar. Masak memaksa Laila banting tulang, tapi dianya ngurus
anak ogah! Primitif banget! Laki-laki apa itu? Giliran anaknya kena DBD dibiarin
saja. Coba kalau sampai mati bagaimana? Pasti si Laila lagi yang disalahin!
Memangnya perempuan WC untuk nampung kotoran?!”
”Terlalu!”
”Sekarang si Romeo nyuruh Laila berhenti lagi!”
”Berhenti?”
”Ya! Apa nggak gila?! Kalau Laila tidak kerja mau
ngasih makan apa si Arjuna?”
”Kali Laila dapat kerjaan baru.”
”Mana ada orang mau menerima pembantu yang tiap
sebentar pulang, karena anaknya nangis!”
”Jadi Laila akan berhenti?”
”Tidak! Biar Laila bawa Arjuna kemari, jadi kerjanya
tenang.”
”Boleh sama si Romeo?”
”Memang itu yang dia mau!”
Saya menarik nafas. Sejak itu, Arjuna yang baru lima
tahun itu jadi bagian dari rumah kami. Kalau dia nangis, sementara ibunya
memasak, sedangkan istri saya sibuk, itu tanggung jawab saya.
Mula-mula berat. Tapi kemudian terjalin persahabatan
indah antara saya dan Arjuna. Saya bahkan merasa tersanjung ketika Arjuna
memanggil saya Pakde.
Sudah 11 tahun saya dan istri merindukan anak. Kami
sudah capek menjalani nasehat dokter. Akhirnya kami ambil kesimpulan, tugas
manusia memang beda-beda. Kami mungkin bukan mesin reproduksi manusia.
Kehadiran Arjuna membuat rumah berubah. Kelucuan bahkan
kebandelan Arjuna menyulap tiap hari jadi beda. Sampai-sampai istri saya
memanggilnya si Buah Hati.
Tapi pulang dari mudik, saya terkejut. Di dapur
terdengar suara ketawa beberapa orang anak. Ternyata di situ ada lima bocah
hampir seusia Arjuna sedang main petak umpet. Mereka sama sekali tidak takut
oleh kehadiran saya.
”Itu anak-anak pembantu-pembantu sebelah.”
”O ya?”
”Ya, orangtuanya juga sibuk kerja, jadi anaknya tidak
ada yang ngurus. Daripada mereka jadi gelandangan atau korban narkoba, aku
suruh saja main di sini nemani si Buah Hati,” kata istri saya.
Mula-mula saya keberatan. Satu anak tertawa dalam
rumah, memang lucu. Tapi enam orang, saya akan kehilangan privasi.
Ketika saya sedang bekerja di meja, semuanya
seliwar-seliwer di depan pintu. Kalau saya menoleh mereka mencelup. Punggung
saya terasa gatal ditancapi tatapan. Saya kira mereka mulai kurang-ajar.
”Kamu frustrasi!” komentar istri saya sambil tertawa,
”Persis!”
”Karena kamu kurang peka!”
Saya berpikir. Istri saya terus ketawa.
”Kamu tidak peka. Anak-anak itu tahu kamu baru kembali
dari mudik. Mereka menunggu.”
”Menunggu apa?”
”Biasanya kalau pulang mudik orang bawa oleh-oleh.”
”Aku bawa untuk Arjuna, bukan untuk mereka!”
”Mereka semua anak-anak. Kamu harus berikan sesuatu
kepada semuanya.”
Istri saya mengulurkan sebuah kantung plastik yang
penuh coklat.
”Bagikan ini pada mereka!”
Saya takjub, tapi tak bisa menolak.
Sejak peristiwa itu, rumah saya seperti penitipan anak.
Kerap ibu-ibu tetangga karena keperluan yang mendesak menitipkan anak di rumah
kami. Anaknya pun senang bahkan mereka menganjurkan agar dirinya dititipkan.
Untung saya cepat membiasakan diri. Apalagi keadaan itu
membuat gengsi kami naik. Istri saya menjadi popular. Saya sering dipuji
sebagai lelaki sejati.
Tetapi kemudian Laila kembali menangis.
”Si Romeo bertingkah lagi!” umpat istri saya setelah
mengusut Laila, ”bayangkan, masak dia minta dibelikan motor!”
”Motor? Emang mau ngojek.”
”Boro-boro ngojek, naik motor juga nabrak melulu!”
”Terus untuk apa?”
”Menurut Laila itu mau disewakan Romeo pada tukang
ojek. Laila minta gajinya setengah tahun di bayar di muka.”
”Kamu tolak kan?!”
”Gimana ditolak? Laila diancam akan digebukin kalau
tidak berhasil.”
Saya jadi penasaran. Lalu saya mencecer Laila.
”Laila, cinta itu tidak buta. Kalau suami kamu terus
dituruti, kepala kamu bisa diinjaknya. Suami pengangguran yang mengancam
dibelikan motor oleh istri itu bukan saja menginjak, tapi itu sudah explotation
de l’home par l’home tahu?!”
”Ya Pak.”
”Kamu mengerti?”
”Mengerti, Pak.”
”Suami yang baik boleh dihormati, tapi yang jahat
tendang!”
Laila tunduk dan mulai menangis.
”Kamu kok cinta mati sama si Romeo, kenapa?
Jangan-jangan kamu sudah kena pelet!”
”Saya hanya mau berbakti kepada suami, Pak!”
”Itu bukan berbakti, tapi sudah bunuh diri!”
”Orangtua saya selalu berpesan, suami itu guru, Pak.
Kata Ibu saya, tidak boleh membantah kata suami, nanti tidak bisa masuk surga!”
”Tapi kelakuan si Romeo kamu itu sudah melanggar HAM!”
Laila menunduk dan meneruskan menangis. Hanya motor
yang bisa menyetop air matanya. Terpaksa saya mondar-mandir ke sana ke mari
untuk mencari info motor bekas. Beruntunglah salah satu satpam bangkrut karena
kalah berjudi. Dia jual murah motornya. Langsung saya bayar, daripada
kehilangan Laila.
”Ah?! Ngapain mesti peduli semua permintaan Laila,”
kata istri saya marah-marah, ”Kalau kamu manjakan dia begitu, sebentar lagi dia
akan menginjak kepala kita! Pembantu itu jangan dikasih hati. Kalau dia mau
berhenti, biarin. Kita cari yang lain!”
Tapi kemudian istri saya sendiri yang menyerahkan kunci
motor bekas itu kepada Laila.
”Ini motornya, Laila. Cicil berapa saja tiap bulan,
asal kamu jangan keluar!”
Laila mencium tangan istri saya dengan terharu. Saya
juga mendapat perlakuan manis. Laila kelihatan sangat bahagia. Sambil nyuci ia
menyenandungkan lagu Nike Ardila.
Tapi itu hanya berlangsung sebulan.
”Si Romeo itu memang kurang ajar!” teriak istri saya
kemudian, ”Motor sudah digadaikan lagi, katanya nggak ada yang doyan nyewa
motor bekas!”
Saya bengong. Dengan mata berkaca-kaca Laila minta
maaf. Katanya, suaminya diancam akan dibunuh kalau tidak melunasi hutangnya
setelah kalah taruhan bola.
Istri saya mencak-mencak. Tapi kemudian ia mendesak
saya menebus motor itu dengan janji, Romeo dilarang menyentuhnya.
”Kamu saja yang boleh naik motor itu Laila! Yang
lain-lain, haram!”
Sejak itu Laila masuk kerja menunggang motor.
Mobilitasnya lebih rapih. Dia selalu datang tepat waktu. Anaknya bangga sekali
duduk di boncengan. Meski para pembantu lain keki, menganggap nasib Laila
terlalu bagus, tidak kami pedulikan. Yang penting, Laila tetap setia di posnya.
”PRT seperti Laila memang perlu punya motor, supaya
tenaganya tidak terkuras di jalanan. Motor itu bukan untuk dia, tetapi untuk
kepentingan kami juga,” kata istri saya kepada ibu-ibu tetangga.
Tak terduga argumen itu patah, ketika pada suatu hari
Laila muncul tanpa motor. Hari pertama saya diam saja. Pada hari ketiga saya
tidak kuat melihat dia pulang menggendong Arjuna sambil menenteng tas besar.
”Motor kamu mana, Laila?”
”Dipakai saudara misan saya, si Neli, Pak.”
”Kenapa?”
”Kerjanya lebih jauh, Pak.”
”Kenapa dia tidak naik angkot saja?”
”Nggak boleh sama suami saya, Pak.”
Saya bingung. Kemudian saya baru tahu, Neli saudara
misan Laila sekarang tinggal bersama Laila satu rumah.
”Itu motor kamu Laila, tidak boleh dipakai orang lain!”
”Tapi suami saya bilang begitu, Pak. Saya harus
mengalah sebab di pabrik tempat Neli kerja aturannya keras. Kalau datang telat
bisa dipecat.”
”Kamu juga harus tepat waktu sampai di sini, Laila!”
”Betul, Pak.”
”Ambil motor itu kembali!!!!!!”
Besoknya Laila masuk kerja tepat waktu. Tapi dia naik
ojek. Saya marah.
”Maksudku kamu tidak hanya datang tepat waktu, tapi
harus pakai motor kamu! Kalau kamu datang ke mari naik ojek, lebih baik jangan
kerja!”
Laila bingung. Dia tidak mengerti apa maksud saya.
Istri saya mencoba menjelaskan. Tapi bukan menjelaskan kepada Laila, dia justru
menerangkan kepada saya.
”Laila tidak berani minta motor itu karena takut
digampar si Romeo.”
Saya bingung.
”Kenapa bangsat itu malah ngurus misannya, bukan
istrinya?”
”Sebab misan Laila itu perempuan !”
”Gila! Istrinya juga perempuan!”
”Tapi perempuan itu lebih muda! Dan Romeo sudah mau
menikahi si Neli!”
Saya megap-megap.
”Ya Tuhan! Kenapa Laila nerima saja dikadalin begitu?
Istri saya hanya mengangguk.
”Sekarang memang banyak orang gila!”
Langsung saya interogasi Laila di dapur.
”Kenapa kamu terus mengalah Laila? Suami kamu sudah
kurang ajar. Jangankan mau menikahi misanmu, mengancam kamu membelikan pacarnya
motor saja, sudah zolim! Kenapa?”
Laila tak menjawab.
”Kamu takut? Kalau perlu aku bantu kamu mengadu kepada
LBH. Orang macam Romeo itu, maaf, bajingan. Dia harus dihajar supaya
menghormati perempuan!”
Laila diam saja.
”Itu namanya kamu sudah kena pelet! Kamu yang cantik
begini pantasnya sudah lama menendang Romeo. Apa kamu tidak sadar?!”
”Ya, Pak.”
”Kalau sadar kenapa tidak bertindak?”
”Saya ingin berbakti pada suami, Pak!”
”Itu bukan berbakti, tapi menghamba! Diperbudak!
Dijadikan kambing congek si Romeo asu itu, tahu!?”
”Ya, Pak!”
”Ya apa?”
”Kata orangtua saya, sebagai istri saya mesti
menghormati suami, saya tidak boleh membantah kata suami. Hanya orang yang baik
dan sabar yang akan bisa masuk surga.”
”Kalau orangtua kamu masih hidup, dia tidak akan rela
kamu disiksa begini?! Kamu ini cantik Laila!”
Mendengar dua kali menyebut kata cantik, istri saya
muncul. Saya diberi isyarat supaya minggir. Lalu dia bicara dari hati ke hati
dengan Laila. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian saya lihat dari
jauh, Laila menghapus air matanya.
”Kita tidak bisa kehilangan Laila,” kata istri saya
kemudian.
”Lho, memangnya dia minta berhenti?”
”Dia tidak bisa merebut motor itu dari si Neli.”
”Tapi itu kan haknya!”
”Kita tidak bisa memaksakan jalan pikiran kita ke
otaknya. Tidak. Pokoknya tidak bisa.”
”Harus! Kita berkewajibkan mengajarkan dia berpikir
logis!”
”Kalau terlalu didesak, bisa-bisa dia minta berhenti.”
”O ya, Laila bilang begitu?”
”Dia tidak bilang begitu, tapi pasti akan begitu.”
”Kenapa dia begitu ketakutan?”
”Sebab Neli sudah dikawini Romeo!”
Saya terpesona. Lama saya mencoba menghayati bagaimana
perempuan yang secantik Laila bisa dikuasai Romeo tak beradab itu. Saya tak
akan pernah bisa mengerti.
Sementara terus-terang, kami sangat bergantung pada
Laila. Kalau dia tidak ada, rumah akan berantakan.
”Kita tidak mungkin kehilangan Laila,” kata istri saya.
”Tapi dia tidak boleh dibiarkan masuk kerja terlambat
terus.”
”Karena itu dia harus punya motor!”
Saya tak menjawab. Istri saya yang harus menjawab.
Jawabannya agak tidak masuk akal. Laila dibelikan motor baru. Laila tersenyum
sambil meneteskan air mata haru mendengar keputusan itu. Arjuna juga tertawa.
Motor kedua Laila langsung dari dealer. Bodinya mulus,
suaranya halus dan tarikannya kuat. Laila dan Arjuna selalu datang tepat waktu.
Saya dan istri puas, merasa keputusan kami tepat.
Tapi tak sampai satu bulan, tiba-tiba Laila muncul
kembali dengan motor bututnya yang lama. Waktu kedatangannya memang tepat.
Wajahnya juga tidak berubah. Ia tetap cantik dan ceria. Hanya Arjuna yang
kelihatan rewel. Dan istri saya ngamuk.
Tidak pakai pendahuluan lagi, Laila langsung digebrak.
”Laila, Ibu sudah bosan bicara! Kalau kamu masih saja
datang pakai motor busuk ini, tidak usah kembali! Pulang! Ibu beli motor baru
untuk kamu dan Arjuna bukan untuk lelaki hidung belang itu! Kalau motor itu
dipakai oleh orang lain, kamu berhenti saja kerja sekarang! Kembalikan motor
kamu!”
Laila gemetar. Saya pun tersirap. Belum pernah istri
saya marah seperti itu. Tanpa berani membantah lagi. Laila menaikkan lagi
Arjuna yang sudah turun dari motor, lalu segera pergi. Saya lihat mukanya pucat
pasi.
Saya kira perempuan itu tidak akan pernah kembali lagi.
Tapi saya keliru. Besoknya, terdengar suara motor yang halus masuk ke halaman.
Saya cepat keluar dan kaget melihat Laila dengan motor barunya. Arjuna tertawa
senang. Laila mengangguk dan menyapa saya dengan sopan.
”Laila kembali, tapi mungkin untuk pamit pergi,” bisik
saya.
Istri saya menjawab acuh tak acuh.
”Sudah waktunya dia menghargai dirinya sendiri!”
Hari berikutnya, seminggu, sebulan dan seterusnya,
Laila tetap bekerja. Ia selalu datang tepat waktu. Lewat dengan anak dan motor
baru, memasuki halaman rumah kami ia kelihatan tegar. Tidak pernah menangis
lagi. Rupanya terapi kejut dari istri saya sudah membuatnya menjadi orang lain.
Tapi kalau diperhatikan ada sesuatu yang hilang. Laila
tidak pernah lagi menggumamkan lagu Nike Ardila. Kadang-kadang dia termenung
dan kelihatan hampa.
Ketika gajinya dinaikkan, Laila tersenyum, mencium
tangan istri saya, tapi tidak lagi meneteskan air mata. Saya jadi penasaran.
”Laila, kenapa kamu kelihatan tidak terlalu gembira?”
”Saya gembira gaji saya dinaikkan Ibu, terima kasih,
Pak.”
”Kamu naik motor mulus yang membuat iri orang-orang
lain. Anak kamu senang dan sehat. Saya dengar saudara misan kamu sudah tidak di
rumah kamu lagi. Suami kamu juga sudah tidak berani lagi memukul dan berbuat
semena-mena. Betul?”
”Betuk, Pak.”
Laila menunduk.
”Kenapa kamu sedih?”
”Ya, Pak, karena sekarang saya tidak akan bisa masuk
surga.”
Jakarta, 12 Oktober 09
Komentar
Posting Komentar